Penulis: Sayyid Diar Mandala - Seorang pemerhati sejarah dan jurnalis.
Sejarah Banten tidak bisa dipisahkan dari peran ulama kampung yang menjadi penopang dakwah dan pemerintahan. Salah satu keluarga yang menjaga tradisi itu secara turun temurun adalah keluarga besar Mandala yang bermukim di Kadupinang, Pandeglang, Banten Selatan.
Tulisan ini disusun sebagai dokumentasi keluarga, untuk masyarakat, dan sebagai motivasi bagi anak bangsa agar tidak melupakan jasa leluhur.
Asal Usul Keluarga Mandala Kadupinang
Menurut penuturan yang diwariskan di lingkungan keluarga besar Mandala Kadupinang, leluhur keluarga ini berasal dari wilayah yang dalam sebutan keluarga disebut Mandalay, yaitu kawasan yang saat ini berada di perbatasan antara Bangladesh dan Myanmar.
Dalam tradisi keluarga diceritakan mereka datang ke tanah Banten melalui jalur perdagangan maritim yang pada masanya terhubung dengan Jalur Sutra Nusantara. Disebutkan tiga kakak beradik yang menjadi awal dari keturunan ini, yaitu Syech Lancar, Dalem Dayeuhan yang juga disebut dengan nama Reyhan, dan Dalem Balar.
Khidmat Dalem Dayeuhan di Masa Kesultanan Banten
Naskah ini secara khusus memaparkan peran Dalem Dayeuhan. Berdasarkan cerita yang hidup di masyarakat Kadupinang, Dalem Dayeuhan adalah tokoh yang turut membantu syiar Islam dan penataan pemerintahan pada masa Sultan Maulana Hasanuddin, Sultan Banten pertama.
Dikisahkan bahwa Sultan Maulana Hasanuddin sempat berkunjung ke wilayah Kadupinang pada awal masa pemerintahannya. Dalam sejarah umum Banten, Sultan Maulana Hasanuddin adalah putra dari Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati dan diamanahi memimpin Banten di usia muda, yaitu tujuh belas tahun.
Peran Dalem Dayeuhan lebih tampak pada pembinaan masyarakat Banten Selatan agar tertib dalam menjalankan ajaran agama dan tertib dalam mengikuti aturan pemerintahan Kesultanan.
Silsilah Keluarga yang Terpelihara
Silsilah yang terpelihara dalam ingatan keluarga besar Kadupinang adalah sebagai berikut. Dalem Dayeuhan menurunkan Dalem Mandala, kemudian Cili Mandala, kemudian Dalem Gadung, kemudian Cili Warehan, kemudian Syech Nayap, kemudian Syech Daim, kemudian Syech Samid, kemudian Syech Muhammad Arif, kemudian Syech Shohibul Mandala, kemudian Syech Muhammad Ruyyani Mandala.
Silsilah ini adalah silsilah kultural keagamaan yang menjadi pegangan internal keluarga untuk menjaga tradisi keilmuan dan akhlak pesantren.
Pengabdian yang Berlanjut Hingga Kini
Hingga saat ini dengan izin Allah, keturunan keluarga besar Mandala masih berikhtiar dalam syiar Islam dan mendukung pemerintah yang sah dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sesuai pesan leluhur untuk tidak mencari popularitas dan mengedepankan keikhlasan, banyak dari keturunan beliau yang berkiprah secara sederhana di berbagai bidang pengabdian di masyarakat. Ada yang mengabdi sebagai pendidik, sebagai abdi negara, maupun sebagai ulama yang mendirikan pondok pesantren.
Di antara pesantren yang diasuh oleh jaringan kerabat dan murid muridnya terdapat di wilayah Gintung Tangerang, Cipanas Lebak, Kadomas Pandeglang, dan beberapa wilayah lain di Banten. Di pesantren tersebut diajarkan pendidikan Islam dengan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah yang moderat, memadukan tradisi pesantren dengan pendekatan modern, serta tetap menghormati ajaran leluhur yang berorientasi pada kemaslahatan umat.
Jejak Dua Putra Syech Ruyyani di Kairo
Bagian yang terdokumentasi secara tertulis dengan baik adalah tentang dua putra Syech Ruyyani, yaitu Kyai Burhanuddin dan Kyai Shaleh.
Di Desa Kadu Pinang terdapat dua makam ulama yang dikenal dengan sebutan Keramat Kadu Pinang, yaitu Syekh Muhammad Sohib dan putranya Syekh Muhammad Ruyani. Syekh Muhammad Sohib diperkirakan hidup sezaman dengan Syekh Nawawi Banten dan Syekh Abdul Karim Banten pada abad ke sembilan belas, sekaligus menjadi sejawat keduanya. Data ini ditelusuri dari manakib KH Tubagus Falak Bogor yang akrab disapa Mama Pagentongan. Ketika beliau belajar di Makkah pada akhir abad ke sembilan belas, beliau dititipkan oleh gurunya yaitu Syekh Sohib Kadu Pinang kepada kawannya yang juga asal Banten dan mengajar di Makkah yaitu Syekh Abdul Karim Banten.
Menariknya dalam beberapa arsip yang dihimpun oleh para peneliti, terdapat dua nama yang mengindikasikan keduanya adalah anak dari Syekh Muhammad Ruyani Kadu Pinang Pandeglang, yaitu Syekh Sholih Ruyani Al Bantani dan Syekh Burhanuddin Ruyani Al Bantani. Keduanya hidup dan berkarir di Kairo pada paruh pertama abad ke dua puluh.
Untuk Syekh Sholih Ruyani Al Bantani, informasi didapatkan dari kitab Kifayah Al Mubtadiin ila Ibadah Rabb Al Alamin, sebuah kitab karangan Syekh Mukhtar Bogor atau Raden Mukhtar bin Raden Natanagara, seorang bangsawan Sunda yang mengajar di Masjidil Haram hingga wafatnya pada tahun 1930. Kitab berbahasa Sunda aksara Pegon ini diselesaikan penulisannya di Makkah lalu diterbitkan di Kairo pada tahun 1920 oleh Maktabah Musthafa Al Babi Al Halabi. Pada halaman belakang kitab tersebut terdapat keterangan nama korektor atau pentashih yaitu Syekh Muhammad Shalih bin Syekh Muhammad Ruyani Banten.
Untuk Syekh Burhanuddin Ruyani Banten, informasi didapatkan dari Majalah Berita Nahdlatul Ulama edisi tahun kesepuluh bilangan keenam tahun 1941. Di sana terdapat kolom berita duka cita. Ejaan aslinya sudah disesuaikan menjadi ejaan sekarang dan isinya sebagai berikut. Dari Kairo diterima kabar. Tuan Burhanuddin Rujani, Pembantu Kepala Ruwaq Jawa di Kairo meninggal pada tanggal 9 Mei dalam usia 45 tahun. Burhanuddin Rujani almarhum lahir di Banten, anak seorang ulama yang terkenal, Kiai Haji Muhammad Rujani di Pandeglang. Almarhum menuntut ilmu pada sekolah tinggi Al Azhar di Kairo. Di kalangan pelajar beliau adalah seorang yang terkenal.
Dari dua sumber arsip tersebut dapat disimpulkan bahwa kedua cendekiawan asal Pandeglang tersebut merupakan bagian dari gerakan intelektual Bumi Putera yang berkarir di Kairo. Sholih Ruyani adalah korektor kitab pada penerbit besar di Timur Tengah pada masanya. Sementara Burhanuddin Ruyani adalah wakil kepala Ruwaq Jawa atau pemondokan pelajar Nusantara di Al Azhar Kairo sekaligus aktivis intelektual yang dikenal di kalangan pelajar pada zamannya.
Kisah keduanya menjadi bukti bahwa sejak awal abad ke dua puluh, putra putra Banten dari Kadupinang telah berkiprah di tingkat internasional. Semangat mereka dalam membantu santri Nusantara di Timur Tengah patut menjadi teladan bagi generasi muda saat ini.
Demikian sekilas dokumentasi tentang keluarga besar Mandala Kadupinang. Semoga tulisan ini menjadi jembatan untuk mempererat silaturahmi keluarga, menjadi pengetahuan bagi masyarakat, dan menjadi motivasi bagi anak bangsa bahwa dari kampung yang sederhana di Banten Selatan pun bisa lahir generasi yang berkontribusi hingga ke tingkat internasional.
Semoga Allah merahmati para leluhur kita dan menjadikan generasi penerusnya sebagai generasi yang istiqamah dalam menjaga agama, bangsa dan negara dalam bingkai persatuan.





LEAVE A REPLY