SURABAYA – Nasirun meninggal dunia pada usia 60 tahun. Lahir di Cilacap tahun 1965, meninggal dunia 1 Agustus 2026. Kepergiannya yang sangat mengejutkan banyak kalangan ini malah menjadi peristiwa budaya. Pelukis ternama Yogyakarta ini dikenal sebagai seniman ndeso. Ia tidak akrab dengan teknologi, tidak punya hape, tidak bisa menyetir mobil, dan lebih nyaman bepergian dengan sepeda motor. Namun, dari identitas yang tidak pernah berusaha disembunyikannya itu, ia tumbuh menjadi perupa yang mampu meramu tradisi, spiritualitas, sejarah, dan persoalan modern dalam bahasa seni kontemporer.
Nasirun pernah menyebut dirinya sebagai “petani seni rupa”. Ia tidak sibuk mengejar kecenderungan yang sedang dominan. Ketika karyanya pernah dianggap sekadar hiasan karena tidak sesuai dengan selera pasar, ia tetap menempuh jalannya sendiri. Baginya, seni bukan semata-mata pekerjaan untuk menghasilkan karya yang laku, melainkan jalan hidup untuk menjadi manusia yang lebih baik.
Dalam acara “Mewicarakan Nasirun” di Balai Budaya, Sabtu sore (17/10), sosok Nasirun dibaca dari berbagai sisi: sebagai seniman, manusia, sekaligus sebuah cara hidup. Diskusi yang dipandu Nirwan Dewanto itu menghadirkan Jumaldi Alfi, Ugo Untoro, dan penulis serta peneliti budaya Sarah Monica.
Jumaldi merasakan pengaruh itu secara langsung. Ketika mengalami kebuntuan ide, ia kerap mendatangi Nasirun. Mereka tidak selalu membicarakan seni; obrolan sederhana tentang kehidupan sehari-hari justru sering mengembalikan semangatnya.
Dari Nasirun, Jumaldi memperoleh pandangan bahwa kuas dapat menjadi media dakwah. Spiritualitas tidak harus disampaikan melalui ceramah, tetapi dapat hadir dalam karya dan menjadi jalan komunikasi antara seniman dengan orang yang melihatnya.
Kemurahan hati Nasirun juga menjadi bagian penting dari kebesarannya. Ia dikenal nyah nyoh, ringan tangan dan gemar memberikan benda-benda yang dimilikinya. Bahkan, ia pernah menampung dan menghidupi 14 tukang di rumahnya. Yang diharapkannya bukan semata balasan materi, melainkan doa dari keluarga para pekerja tersebut.
Karena itu, pengaruh Nasirun tidak hanya berada di atas kanvas. Ia membangun jaringan manusia yang tumbuh melalui pergaulan, pertolongan, dan kepercayaan.
Tradisi sebagai Tenaga Masa Kini
Ugo Untoro mengenal Nasirun sejak keduanya menempuh pendidikan seni di ISI Yogyakarta. Ugo masuk pada 1988, sedangkan Nasirun lebih dahulu pada 1987. Pertemuan mereka ditandai oleh sapaan Nasirun kepada yuniornya sebagai sesama orang Banyumas.
Menurut Ugo, kultur Ngapak yang egaliter dan terus terang turut membentuk karakter Nasirun. Ia bergaul dengan berbagai lapisan masyarakat tanpa terlalu memedulikan status. Rumahnya di kompleks Bayeman Indah pun menjadi ruang terbuka bagi seniman, pekerja, tetangga, dan siapa saja yang datang.
Akar Banyumasan itu terlihat dalam kecintaannya terhadap wayang, termasuk tokoh Bawor yang dikenal kritis dan egaliter. Nasirun bahkan gemar menjadi dalang dalam acara-acara warga. Namun, tradisi baginya bukan sesuatu yang cukup dikenang atau dipertahankan dalam bentuk aslinya.
Sedangkan Sarah Monica, yang pernah meneliti Nasirun dalam kajian akademiknya, melihat paradoks dalam praktik kesenian tersebut. Nasirun berangkat dari dunia tradisi, tetapi tidak berhenti sebagai seniman tradisional. Pengalaman masa lalu, dongeng ibunya, ajaran Tarekat Naqsyabandiyah dari ayahnya, serta kebudayaan Banyumasan diolah menjadi bahasa yang berhadapan dengan persoalan masa kini.
Nasirun juga tumbuh dari lingkungan Sokaraja yang memiliki tradisi seni kuat. Menurut Ugo, kawasan itu berkembang sebagai “kampung seni” bukan semata karena melahirkan banyak seniman, melainkan karena seni menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Nasirun membawa akar tersebut ke medan seni rupa yang lebih luas, mempertemukan kehidupan desa dan kota, tradisi dan modernitas, serta spiritualitas dan sejarah.
Persoalan terbesar muncul setelah Nasirun pergi: bagaimana menjaga apa yang telah dibangunnya?
Sekitar dua minggu sebelum meninggal, menurut Ugo, sempat ada pembicaraan mengenai keberlanjutan peninggalan Nasirun di sebuah lembaga pembelajaran seni rupa. Prinsip yang mengemuka sederhana: “aja nganthi ilang”—jangan sampai hilang.
Jumaldi menyebut gerakan “Nasirunan” sebagai upaya meneruskan semangat saling menolong yang menjadi bagian penting dari kehidupan Nasirun. Namun, Nirwan Dewanto mengingatkan bahwa ada pekerjaan besar yang menanti: menjaga agar “Nasirunan” tidak berhenti sebagai label, sekaligus memastikan karya dan properti Nasirun dikelola dengan baik, termasuk persoalan perlindungan hukumnya.
Nasirun meninggalkan lukisan, instalasi, rumah, koleksi, dan berbagai benda. Namun, yang paling sulit diwariskan justru cara hidupnya: kemurahan hati, keberanian mempertahankan identitas, keterbukaan terhadap orang lain, serta kemampuannya mengolah tradisi menjadi tenaga kreatif masa kini.
Maka, persoalannya bukan hanya bagaimana mengenang Nasirun atau merawat karya-karyanya. Yang lebih penting adalah memastikan semangat yang membuat orang lain tumbuh, berkarya, dan saling menolong tidak ikut terkubur bersama jasadnya di Giri Sapto.
Itulah ujian sesungguhnya bagi “Nasirunan”: bukan sekadar menjaga nama Nasirun tetap hidup, melainkan membuat nilai-nilai yang diperjuangkannya terus bekerja di antara manusia. (*)





LEAVE A REPLY