Home agama ULAMA NUSANTARA JADI IMAM BESAR MASJIDIL HARAM, BUKTI PRIBUMI MAMPU MENDUNIA

ULAMA NUSANTARA JADI IMAM BESAR MASJIDIL HARAM, BUKTI PRIBUMI MAMPU MENDUNIA

106
0
SHARE
ULAMA NUSANTARA JADI IMAM BESAR MASJIDIL HARAM, BUKTI PRIBUMI MAMPU MENDUNIA

Oleh: Sayyid Diar Mandala | Pemerhati Sejarah

PANDEGLANG, MENARAMADINAHNEWS.COM - Pernahkah kita membayangkan, siapa sosok yang berdiri paling depan, menjadi Imam shalat di Masjidil Haram, tepat di depan Ka'bah yang menjadi kiblat seluruh umat Islam di dunia?

Mungkin banyak dari kita yang tidak menyangka. Ternyata, yang pernah berdiri di tempat paling mulia tersebut adalah ulama asli dari negeri kita sendiri. Ulama dari Betawi, ulama dari Banten, dan ulama dari Minang.

Ini bukan cerita legenda atau dongeng pengantar tidur. Ini adalah fakta sejarah yang tercatat rapi dan menjadi bukti sahih bahwa kecerdasan dan keilmuan ulama pribumi Nusantara diakui kehebatannya oleh seluruh dunia Islam.

Tercatat dalam sejarah, ada tiga ulama besar asal Indonesia yang pernah mendapat amanah yang sangat agung, yaitu menjadi Imam Besar di Masjidil Haram, Makkah Al Mukarramah. Mereka jauh lebih unggul karena ilmu dan karyanya.

Syekh Junaid Al Batawi, Perintis dari Betawi

Ulama pertama adalah Syekh Junaid Al Batawi. Beliau merupakan ulama besar asal Betawi yang lahir di kawasan Pekojan, Jakarta Barat. Pada tahun 1834, saat usia beliau baru menginjak 25 tahun, beliau sudah bermukim di Makkah untuk menuntut ilmu.

Karena keluasan ilmu dan akhlaknya yang mulia, beliau dipercaya menjadi guru dan Imam Besar di Masjidil Haram. Sebuah amanah besar yang tidak mungkin diberikan kepada sembarang orang.

Syekh Nawawi Al Bantani, Murid yang Mendunia

Dari didikan Syekh Junaid Al Batawi, lahir ulama besar dunia asal Banten, yaitu Syekh Muhammad Nawawi Al Jawi Al Bantani. Beliau adalah murid langsung dari Syekh Junaid Al Batawi.

Beliau dilahirkan di Kampung Tanara, Serang, Banten pada tahun 1815. Kecerdasan beliau luar biasa. Beliau menulis lebih dari 40 kitab yang sampai hari ini menjadi pelajaran wajib di pesantren-pesantren di Nusantara dan bahkan menjadi rujukan di Universitas Al Azhar, Mesir. Dunia Islam menjulukinya Sayyid Ulama Al Hijaz.

Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi, Ahli Falak dari Minang

Ulama ketiga adalah Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi. Beliau lahir di Koto Tuo, Agam, Sumatera Barat pada tanggal 26 Juni 1860. Kecerdasan beliau sudah terlihat sejak anak-anak.

Dengan keahlian di bidang falak dan fikih yang sangat presisi, beliau diangkat menjadi Imam Besar, Khatib dan Mufti di Masjidil Haram. Dari tangan dingin beliau, lahir banyak ulama besar pendiri organisasi keislaman di Indonesia.

Pelajaran Penting Untuk Kita

Dari kisah ketiga ulama tersebut, kita dapat mengambil pelajaran penting. Sejarah telah membuktikan bahwa ulama asli Nusantara mampu menjadi pemimpin ibadah di pusat kiblat umat Islam dunia karena kekuatan ilmu, karya nyata dan ketakwaannya. Mereka diakui dunia, bukan karena kultus, tapi karena karya.

Kisah ini juga menjadi kritik dan pengingat bagi oknum pendukung yang selama ini masih mengkultuskan berlebihan kepada sosok tertentu. Sudah saatnya kita berhenti dari budaya kultus yang berlebihan tersebut. Mari kembali memuliakan ulama Nusantara kita sendiri yang jelas keilmuannya, jelas kitab karangannya, dan jelas diakui dunia.