PERAK— Di ruangan yang tenang namun penuh semangat keilmuan, dua lembaga besar yang menjaga kemurnian hukum Islam dari dua negara bertetangga, bertemu.
Bukan untuk sekadar berjabat tangan, melainkan untuk membuka pintu kerja sama yang mungkin akan memberi dampak luas bagi dunia keilmuan Islam internasional.
Selasa lalu World Moslem Studies Center (Womester) yang berbasis di Indonesia, berkunjung ke Jabatan Mufti Negeri Perak, Malaysia — sebuah pertemuan yang terasa seperti pertemuan dua keluarga besar ilmuwan Islam.
Rombongan Womester dipimpin langsung oleh Direkturnya, Prof. Dr. KH. M. Noor Harisudin, didampingi istrinya, Nyai Hj. Robiatul Adawiyah, serta Ustadz Azmir.
Dari pihak Perak, tim pimpinan Ustadz Mohamad Faizal bin Jani dan tim berjumlah sekitar 15 orang menyambut hangat kedatangan mereka. Pertemuan yang berlangsung dari pukul 10.00 hingga 12.30 waktu Malaysia itu bukan sekadar seremoni — ia adalah pertukaran jiwa lembaga.
Jabatan Mufti Negeri Perak bukan sekadar kantor fatwa biasa. Sejarahnya sudah berjalan lebih dari satu abad — jauh sebelum tahun 1900, melalui Undang-Undang Sembilan Puluh Sembilan dan Balai Syarak Kuala Kangsar. Hari ini, ia berdiri dengan empat pilar utama: Bidang Fatwa, Bidang Falak, Bidang Perpustakaan, dan Bidang Pentadbiran. "Fungsi utama kami adalah membantu dan menasihati Sultan dalam hukum syarak, memberi nasihat kepada agensi kerajaan, serta menjawab permasalahan hukum semasa," jelas Ustadz Faizal. Bidang falaknya pun istimewa — menjadi pusat rujukan, pendidikan, dan penelitian yang mapan.
Bagi Womester, pertemuan ini adalah momen penting. Berdiri sejak 3 Januari 2019, organisasi yang digawangi para peneliti dan dosen ini memiliki visi yang luas: Islam Wasathiyah, moderat, progresif, dan rahmatan lil 'alamin. Kiprahnya yang paling unik adalah pengembangan kajian Fiqh Aqalliyat — fiqih komunitas Muslim minoritas — yang kini menjangkau Kanada, Jepang, Jerman, Australia, Tiongkok, hingga Amerika Serikat.
"Komunitas Muslim minoritas tidak hanya ingin tahu cara beribadah yang benar. Mereka ingin berkembang — dari membangun masjid, memakmurkannya, mendirikan sekolah, membangun ekonomi, hingga berkontribusi dalam kehidupan publik," ungkap Prof. Haris dengan semangat. Di sinilah pertemuan ini menemukan maknanya: Jabatan Mufti Perak dengan kekuatan tradisi dan otoritas fatwanya, dan Womester dengan jejaring internasional serta pendekatan fiqih yang menjawab tantangan zaman — keduanya saling melengkapi.
Pertemuan ditutup dengan penjelasan fasilitas: perpustakaan yang kaya koleksi, mushalla, ruang rukyatul hilal, hingga ruang sidang fatwa. Di setiap sudut yang dikunjungi, terasa satu harapan bersama — bahwa silaturahmi ini tidak berakhir di hari itu. Ia akan tumbuh menjadi kerja sama nyata, di mana ilmu tidak mengenal batas negara.
Sebagai penutup, Prof. Haris menyampaikan dengan tulus: "Terima kasih atas sambutan yang luar biasa. Kami berharap silaturahmi ini dapat dilanjutkan dalam bentuk kerja sama konkret." Sebuah jembatan telah terhubung hari ini — bukan hanya antara dua lembaga, tetapi antara tradisi dan pembaruan, antara otoritas fatwa dan riset lapangan, antara dua bangsa yang bersaudara. Semoga jembatan ini membawa manfaat yang meluas.*Imam Kusnin Ahmad*





LEAVE A REPLY