*ARIK S. WARTONO: DARI GOSARI KE KASONGAN*
Pembukaan: Kamis, 17 September 2026, pukul 16.00-21.00 WIB
Di Galeri Prabangkara, Taman Budaya Jawa Timur
Dibuka oleh Prof. Djuli Djatiprambudi
Pameran: 18-22 September 2026, pukul 15.00-21.00 WIB
Gratis, terbuka untuk umum
*SURABAYA* – Dari sebuah goa kecil dan tungku produsen gerabah skala besar di Ngambal yang saat ini masuk desa Gosari, kecamatan Ujungpangkah, Gresik, hingga desa gerabah paling terkenal di Indonesia, Kasongan. Rentang itu bukan hanya geografi. Itu adalah rentang ingatan, teknik, dan identitas yang hampir putus.
Arik S. Wartono mempersembahkan pameran tunggal seni rupa dan arsip sejarah "Dari Gosari Ke Kasongan". Sebuah upaya rekonstruksi sejarah gerabah Jawa, ala seniman.
*Artefak Abad 12-14 dan Instalasi Mandala Giri Kedaton*
Pameran ini tidak hanya menyajikan karya baru, tetapi juga menampilkan artefak asli. Fragmen gerabah abad ke-12 hingga abad ke-14 dari Zaman Kerajaan Tumapel (Singhasari) sampai Majapahit akan tampil sebagai arsip sejarah sekaligus sebagai bagian dari karya instalasi berjudul "Mandala Giri Kedaton".
Mandala Giri Kedaton ditemukan pada situs Makam Sunan Prapen, Raja pada masa puncak kejayaan Giri Kedaton. Secara visual, mandala ini mirip Surya Majapahit, karena memang itulah dasar pijakannya. Hanya konsepnya yang diubah. Jika Surya Majapahit dimaknai sebagai simbol 1 raja utama dan 8 raja penguasa kerajaan fasal dengan konsep 8 dewa utama dan 1 dewa pusat, oleh Giri Kedaton konsep itu diubah menjadi Walisongo: 1 ulama pemimpin sebagai raja pandita dan 8 ulama penopangnya.
Dewan dakwah Walisongo ini berakhir ketika Giri Kedaton ditaklukkan oleh Mataram di bawah Sultan Agung.
Instalasi Mandala Giri Kedaton mencakup rangkaian gerabah, lampion Damar Kurung segitiga, dan batik Damar Kurung. Melalui instalasi ini, Arik mengajak kita melihat bagaimana simbol berpindah, berubah makna, dan tetap hidup di atas tanah yang sama: tanah gerabah.
*12 Karya Astrofotografi Gosari - Kasongan*
Pada bagian dinding galeri, terpajang 12 karya astrofotografi yang merekam langit di atas dua pusat peradaban gerabah, Gosari-Gresik dan Kasongan-Yogyakarta-Kedu:
1. Petir Jogja - Astrofotografi - 90x60 cm
2. Petir Selarong, Bantul - Astrofotografi - 90x60 cm
3. Purnama Gosari - Astrofotografi - 90x60 cm
4. Lentera Gumuk Pasir, Parangkusumo, Jogja - Astrofotografi - 90x60 cm
5. Malam Goa Gosari - Astrofotografi - 90x60 cm
6. Malam Gosari - Astrofotografi - 60x90 cm
7. Malam Giri Kedaton - Astrofotografi - 60x90 cm
8. Malam Kedu - Astrofotografi - 60x90 cm
9. Prasasti Gosari / Butulan - Dokumentasi 10 September 2026 - 60x90 cm
10. Senja Kasongan - Agustus 2023 - 60x90 cm
11. Petir Giri - Astrofotografi - 60x90 cm
12. Pagi Goa Selarong - Juli 2023 - 90x60 cm
*Arsip Lengkap: Dari Lempung Hingga Buku*
Arsip yang dipamerkan beragam, mulai dari material mentah hingga produk jadi dan literatur:
Fragmen Gerabah Gosari, Air Gosari, Air Kasongan, Lempung Kasongan, Lempung Gosari (Bekas Bakaran Tungku), Fragmen Gerabah di Situs Prasasti Gosari / Butulan, Kuali Gerabah Produk Pengrajin Kasongan, Anglo Gerabah Produk Pengrajin Kasongan, Wuwungan Naga Gerabah Produk Pengrajin Kasongan, Kuda Koden Gerabah Produk Pengrajin Kasongan, Souvenir Kuda Koden, Souvenir Naga, Souvenir Gajah, Air Laut Jawa, Batu Gosari, Batu Fosil Kerang dari Ujungpangkah Gresik, Metalurgi, serta buku-buku tentang Gosari, Kasongan, dan Giri Kedaton dan Gresik, termasuk data foto dan video riset.
*Bunga Kertas Sebagai Simbol Dekolonisasi Pengetahuan*
Di beberapa sudut ruangan, pengunjung akan menemukan rangkaian bunga bougenville asli yang diletakkan dalam vas gerabah (kendil).
Bunga bougenville yang di Indonesia lebih populer sebagai "bunga kertas" ini habitat aslinya dari Amerika Selatan, terutama Brasil, Peru, dan Argentina. Masuk ke Nusantara pada Masa Kolonial Abad ke-19 hingga Awal Abad ke-20 sebagai tanaman hias yang dibawa orang Eropa.
Kehadirannya adalah pernyataan kuratorial. Bunga bougenville menjadi simbol bahwa sejarah yang kita pahami bahkan kita yakini hari ini sebenarnya adalah hasil konstruksi pemikiran kolonial. Bahkan apa yang dianggap "ilmiah" dan "tidak ilmiah" pun sampai hari ini masih terpengaruh narasi mereka.
Pameran ini mengajak berpikir ulang. Konstruksi berpikir bangsa ini perlu merdeka melalui kajian post-kolonial, membebaskan diri dari konstruksi narasi kolonialisme ilmu, sejarah, dan seni.
*Kolaborator Pameran:*
1. Eko Jarwanto (Sejarawan Gresik, kajian Situs Gosari)
2. Kris Adji AW (Seniman dan Sejarawan Gresik)
3. Heru Siswanto (Seniman dan Ketua Perajin Kasongan)
4. Ariel Ramadhan (Seniman Muda Surabaya)
5. Sanggar DAUN
*Informasi Pameran:*
Judul: Dari Gosari Ke Kasongan - Pameran Tunggal Arik S. Wartono
Tempat: Galeri Prabangkara, Taman Budaya Jawa Timur, Jl. Gentengkali No.85 Surabaya
Pembukaan: Kamis, 17 September 2026, 16.00-21.00 WIB
Pameran: 18-22 September 2026, 15.00-21.00 WIB
Free HTM, terbuka untuk umum
Sampai jumpa sore ini di Galeri Prabangkara.
Salam Budaya,
*Arik S. Wartono*
Seniman, Kurator, Pendiri Sanggar DAUN





LEAVE A REPLY