Home Opini Perang halus budaya

Perang halus budaya

12
0
SHARE
Perang halus budaya

 

 

 By : Dr. Ir Hadi Prajaka SH MH.

 

Fenomena masyarakat modern hari ini dikejutkan dengan arogan perang dan teror ini mencerminkan satu peristiwa yang membuat semua orang berfikir keras, apakah yg menyebabkan manusia saling bunuh tanpa rasa kemanusiaan, tanpa Nalar dan keadilan, dimana budaya luhur dikemas dengan istilah doktrin-doktrin surga dan neraka yg selalu mereka kumandangkan, dan tidak lebih hanya slogan janji janji para SUCI penjual surga dengan kultus dokma dan doktrin dibungkus dengan stigma atas nama Tuhan belaka.

 

Sebenarnya perang mereka adalah puncak dari akumulasi spiritual dan perebutan material atau kah hanya dominasi kekuasaan politik?

Banyak pertanyaan yang menjadi akar permasalahannya, siapa kah penyebab utama itu,? 

 

Marilah kita coba preteli dan analisis.

 

Kita mulai dari perjalanan sejarahnya bangsa IBRANI yg men-

Dominasi peradaban modern , marilah kita evaluasi dan hitung ulang perjalanan zaman Ibrani atau Abraham hebro, Yg banyak mensugesti sejarah politik modern.

 

Sering orang bertanya siapa sebenarnya itu ABRAHAM atau IBRAHIM , apakah dia itu subyek atau sosok obyek, atau sekumpulan masyarakat, ? 

 

Bila ditinjau dari kosakata bahasa Ibrani Hebrew, Ibrahim atau Abraham itu artinya Bangsa yang melintas, berhijrah dari satu desa Urkasdim Persia ke wilayah jajahan baru, dijelaskan makna nya sebagai sekumpulan banyak orang yang melintasi sungai Eufrat, dari Persia - Urkasdim melintasi beberapa wilayah dan Menuju aleksandria Egyptian ( Mesir ), dgn berbagai peperangan mereka lalui dengan menjatuhkan dan mengalami perebutan wilayah suku suku Yg ditundukkan, sampai saat ini wilayah meshopotamia, Babilonia, Persia dan Egyptian - Mesir merupakan perlintasan sejarah politik dan kekuasaan yang dijadikan sebagai kewilayahan kebesarannya baik secara politik dan kekuasaan budaya, dan membentuk peradaban baru yang dinamakan muncul budaya Baru yaitu peradaban IBRANI.. bahkan orang Yahudi menyatakan diri Abraham adalah bapak Bangsa nya. 

Yg awalnya adalah pencarian wilayah dari sekumpulan pembunuh bayaran atau assassin kalau di Jepang dg istilah NINJA, dan menjadi Bangsa Baru, yg mewarnai fenomena budaya dan spiritualitas masyarakat dunia.

 

Dalam kaitan fenomena peradaban masa lalunya selanjutnya masyarakat modern dalam perkembangan dunia mulai  dituliskan dalam buku-buku yg dikemas suci, sebagai propaganda politik dari sisa sisa riwayat nya itu dan tidak lepas dari peran penting dari sekelompok manusia di URKASDIM, secara geografis wilayah Persia

 

Ada dua peperangan yg tercatat terakhir dalam sejarah modern yaitu 

1. Fenomena perang dunia pertama dan.

2. Fenomena perang dunia kedua,

 

 bagaimana peran sejarah kaum IBRANI mewarnai budaya Bangsa Bangsa Romawi dan Yunani ( eropa ) sampai tunduk dan jatuh kepada peradaban IBRANI? Dari sanalah sejarah politik dan kekuasaan yang dibungkus dengan daun agama.

 

Marilah kita koreksi dalam episode episode bersama..... dan tunggu episode berikutnya, dari ulasan sesaat pertama.

 

Kita melihat beberapa Bangsa bangsa hebat dari Timur Tengah dan persia itu menjual budaya, adat dan  tradisi warisannya dg kemasan agama bahkan dg bungkus Tuhan yg dibumbui dengan firman Tuhan, atau perintah Tuhannya, agar sugesti dokma dan doktrin masuk menjadi kultus.

Mengapa mereka mampu sampai menjual budaya menjadi ibadah kerohanian agama dan yg  terjadi seluruh umat manusia bisa tunduk dan patuh serta kehilangan daya analisis nya atau apakah kekuatan pemasaran mereka atau tipu daya yg canggih? 

 

Dari sekedar sentuhan tulisan diatas coba kita uraikan dibawah ini, *BAGAIMANA BANGSA ARAB DAN PERSIA MENJUAL PRODUK BUDAYA ROHANI MEREKA* 

sehingga laris manis seperti kacang goreng, bagaimana caranya agar kita tidak hanya menjadi produsen semata, atau kita juga bisakah menjual berbagai produk kerohanian dan Adat budaya sendiri kepada mereka?

 

 

*Secara Sciencifik: Perspektif Antropologi dan Sosiologi*

 

- Dari perspektif antropologi, *budaya Ibrani* punya peran besar mewarnai peradaban dgn konsep agama yang kompleks dan multifaset, yang melibatkan aspek-aspek sejarah, politik, ekonomi, dan spiritual, tetapi tidak pernah dikoreksi secara detail bagaimana Adat dan tradisi mereka dijadikan konsep kerohanian.

- Penelitian telah menunjukkan bahwa budaya dan agama dapat digunakan sebagai alat untuk mengontrol kekuasaan politik dan menindas masyarakat, namun juga dapat menjadi alat  merubah adat dan tradisi lama atau asli nya hilang dan secara otomatis budaya baru tercipta dgn stigma akulturasi dari kenyataan nya terjadi bukan terjadi perubahan tetapi terjadi pembunuhan budaya setempat, sehingga sumber kekuatan spiritual budaya asli nya musnah dan kehilangan identitas jati diri bagi masyarakat yang digunakan untuk kepentingan kekuasaan politik belaka, (Geertz, 1960).

- Bangsa-bangsa hebat dari Timur Tengah dan Persia telah menggunakan budaya dan agama sebagai alat untuk menyebarkan pengaruh dan kekuasaan mereka, dengan kemasan agama dan firman Tuhan, dimana mereka menguasai seluruh Bangsa Eropa ( Yunani dan Romawi) setelah Babilonia dan meshopotamia serta Egyptian Mesir bisa dimusnahkan.(Fanon, 1961).

 

*Cultural: Perspektif Sejarah dan Budaya*

 

- Dari perspektif sejarah, bangsa-bangsa hebat dari Timur Tengah dan Persia telah memiliki sejarah yang panjang dan kompleks, dengan berbagai kebudayaan dan agama yang berkembang, tetapi sejarah tidak pernah mencatat bahwa telah terjadi pembunuhan brutal terhadap budaya masyarakat yg dahulu pernah mewarnai keanekaragaman sosial spiritual dari peradaban masa lalu.

- Mereka telah menggunakan adat , tradisi, budaya dan agama sebagai alat untuk menyebarkan pengaruh dan kekuasaan mereka, dengan cover agama dan firman Tuhan, bahkan tidak segan-segan menjual Tuhan dan saling berebutan tentang asal-usul, ayat ayat dari buku-buku Yg di anggap SUCI (Ricklefs, 2001).

- Namun, mereka juga telah menunjukkan kemampuan untuk beradaptasi dan berubah, dengan mempertahankan kekuatan' kekuasaan nya membuat identitas budaya dan kerohanian baru,  mereka berupaya kekuatan politik kekuasaan nya jangan sampai hilang maka dipaksakan tradisi, adat, dan bahasa sebagai symbul ketuhanan, apakah kenyataannya masyarakat di wilayah jajahan nya masih hidup dg budaya luhur aslinya?  ternyata mereka seperti budak budak tawanan perang, terperangkap dalam dunia fisik dan di borgol dalam kerohanian baru (Koentjaraningrat, 1985).

 

*Sosial Politis: Perspektif Politik dan Ekonomi*

 

- Dari perspektif politik, bangsa-bangsa hebat dari Timur Tengah dan Persia telah menggunakan budaya dan agama sebagai alat untuk menyebarkan pengaruh dan kekuasaan mereka, dengan kemasan budaya ke agamaan dan dengan menggunakan tangan kanan dan kiri Tuhan, untuk melanggengkan kekuatan' politik membuat cover budaya spiritual baru bagi Bangsa Bangsa jajahannya, (Marx, 1844).

- Mereka juga telah menggunakan kekuatan ekonomi dan politik untuk menyebarkan pandangan budaya ibadah ke- agama@n dan budaya spiritual mereka, dengan memanfaatkan kelemahan dan kebutuhan masyarakat, merubah mainset bahasa ibu demi kebutuhan ekonomi, politik dan rohani bagi daerah masyarakat atau suku suku jajahannya yg telah ditundukkan (Nietzsche, 1887).

 

- Namun, mereka juga telah menunjukkan kemampuan untuk beradaptasi dan merubah seluruh nilai warisan masyarakat jajahannya, dengan memperkenalkan identitas budaya baru dan ibadah agama mereka sebagai kebutuhan politik kekuasaan, tanpa harus menunggu perubahan pola pikir dan kesadaran nya.(Bloch, 1959).

 

*Filosofis: Perspektif Kritis dan Rasional*

 

- Dari perspektif filosofis, budaya dan agama dapat dilihat sebagai konsep yang kompleks dan multifaset, yang melibatkan aspek-aspek peperangan, sejarah pembunuhan politik, ekonomi, dan spiritual.

- Filosof seperti Karl Marx dan Friedrich Nietzsche telah banyak mengkritik bahwa budaya dan agama Yg dibalut dengan berbagai kebutuhan ekonomi,janji janji hidup setelah mati, surga dan neraka atau imbalan angan angan dan halusinasi melalui dokma dan kultus yg berlebihan dapat digunakan sebagai alat untuk mengontrol dan menindas masyarakat (Marx, 1844; Nietzsche, 1887).

- Namun, filosof juga menunjukkan bahwa budaya dan agama dapat menjadi sumber kekuatan menghapuskan budaya Bangsa lain serta memusnahkan identitas jati diri bagi masyarakat jajahannya dari suara kesadaran para filsuf ini sering dianggap sebagai satu kesatuan dari sumber suara syetan padahal itu adalah murni satu pemikiran pada pembangunan kesadaran Yg murni, manusia diajak untuk mulai kritis terhadap explotation de lome parlom (Bloch, 1959).

 

*Spiritual: Perspektif Agama dan Spiritualitas*

 

- Dari perspektif spiritual, budaya dan agama semestinya itu adalah misi kemanusiaan dan mampu membangkitkan kesadaran jiwa', dan mampu me-merdeka-kan Bhatin bukan perangkap rohani, hal ini semestinya dilihat sebagai satu konsep yang  mulia mengangkat adat tradisi luhur dan memberikan pencerahan serta menghargai berbagai budaya yang hidup jauh sebelum nya, tidak sebagai alat penindasan dan pemusnahan budaya yg dahulu sudah ada Yg lahir di tiap tiap suku bangsa didunia tetapi kenyataannya malah terbalik hanya di gunakan sebagai pemasung rohani dan alat pemusnah massal umat manusia, suatu keniscayaan yang membuat kita tidak lagi berprikemanusiaan dan saling meniadakan.

- seharusnya Agama dan budaya spiritualitas dapat menjadi sumber kekuatan dan identitas jati diri bagi masyarakat, namun banyak dimanfaatkan untuk kepentingan politis dan  digunakan sebagai alat untuk mengontrol dan menindas masyarakat serta merusak adat dan tradisi luhur (Fanon, 1961).

- Bangsa-bangsa hebat dari Timur Tengah dan Persia telah menggunakan agama dan spiritualitas sebagai alat untuk menyebarkan pengaruh dan kekuasaan mereka, dengan kemasan doktrin spiritual dan firman Tuhan (Geertz, 1960).

 

*Antropologi Budaya: Perspektif Budaya dan Identitas*

 

- Dari perspektif antropologi budaya.

 

 budaya spiritual dan agama dapat dilihat sebagai konsep yang kompleks dan multifaset, yang melibatkan aspek-aspek sejarah, politik, ekonomi, dan spiritual, seringkali menjadi penyebab konflik konflik politik , Peperangan, pembunuhan dan perebutan kekuasaan- di satu sisi Budaya dan agama dapat menjadi sumber pencerahan,  sumber kekuatan dan identitas jati diri bagi masyarakat, selama menghargai ke-berbedaan spiritual dan adat, namun bila ada homogenisasi seluruh nilai disamakan dan disatukan dalam ibadah dan hilang keanekaragaman rohaninya maka menjadi konflik dan penindasan semestinya menghargai nilai privasi - private masing masing individu dan budaya Yg mereka warisi, karena urusan dg Tuhan adalah sesuatu privasi yang paling esensial dalam hak asasi manusia bukan urusan kaum pemimpin kartel kartel agama, bila hal itu ada kesadaran maka  dapat digunakan sebagai alat pencerahan bukan untuk mengontrol dan menindas individu dan masyarakat (Koentjaraningrat, 1985).

- Bangsa-bangsa hebat dari Timur Tengah dan Persia telah menjual adat tradisi ibadahnya dgn cover budaya dan agama sebagai alat untuk menyebarkan pengaruh dan kekuasaan mereka, dengan kemasan plastik yang memberikan keuntungan ekonomi karena mampu nen-sugesti masyarakat global selain itu tidak segan segan juga membunuh yg berbeda spiritual dan rohani nya yg tidak berdasarkan adat istiadat dan tradisi luhur yang telah mereka kemas dg balutan ketuhanan (Ricklefs, 2001).

 

*Kajian Riset Ilmiah Modern*

 

- "The Clash of Civilizations" oleh Samuel Huntington (1996)

- "The End of History and the Last Man" oleh Francis Fukuyama (1992)

- "The Lexus and the Olive Tree" oleh Thomas Friedman (1999)

- "The World is Flat" oleh Thomas Friedman (2005)

 

Referensi:

 

- Bloch, E. (1959). The Principle of Hope.

- Fanon, F. (1961). Les Damnés de la Terre.

- Geertz, C. (1960). The Religion of Java.

- Koentjaraningrat. (1985). Kebudayaan Jawa.

- Marx, K. (1844). Critique of Hegel's Philosophy of Right.

- Nietzsche, F. (1887). On the Genealogy of Morals.

- Ricklefs, M. C. (2001). A History of Modern Indonesia Since c. 1200

- filsafat Pancasila oleh BAMBANG NOERSENA.

 

 

PRODUSER ORANG WARAS..

 

TTD

Gus WARAS Nalar