Oleh: Diar Mandala
Merawat Aqidah dan Menjaga Persatuan: Penulis berfoto dengan latar Menara Banten, pengingat akan perjuangan Walisongo yang mengislamkan Nusantara dengan ilmu dan kearifan budaya. (Foto: Diar Mandala/MenaraMadinahNews.Com)
Kecintaan kepada keluarga Nabi Muhammad SAW adalah bagian dari keimanan kita. Namun kecintaan yang tulus itu harus dijaga agar tidak dimanfaatkan oleh narasi-narasi yang justru menjauhkan umat dari ajaran Islam yang murni.
Belakangan ini masyarakat dihadapkan pada berbagai doktrin yang perlu diluruskan. Misalnya doktrin yang mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang ditentukan oleh klaim keturunan semata, bukan oleh ilmu dan ketakwaan. Doktrin yang mengajarkan umat untuk takut bertanya dan takut melakukan verifikasi dengan alasan kualat. Doktrin yang menjanjikan jaminan keselamatan hanya dengan bentuk penghormatan yang berlebihan kepada manusia. Jika dibiarkan, doktrin seperti ini dapat melemahkan nalar dan kemandirian berpikir anak bangsa.
Islam hadir untuk memuliakan akal. Al-Qur'an berulang kali mengajak manusia untuk berpikir, meneliti dan melakukan tabayun. Kemuliaan di sisi Allah diukur dengan ketakwaan, bukan dengan klaim keistimewaan. Sejarah dakwah Walisongo di Nusantara juga mengajarkan hal yang sama, yaitu dakwah yang mencerdaskan, merangkul dan membebaskan manusia dari rasa takut yang tidak berdasar.
Dalam konteks inilah kehadiran organisasi kemasyarakatan seperti Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah atau PWI LS dapat dipahami sebagai bagian dari upaya untuk melakukan edukasi keagamaan dan penguatan kebangsaan. Gerakan ini menempatkan pentingnya menjaga aqidah yang lurus sekaligus menjaga komitmen terhadap empat pilar kebangsaan yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika.
Kajian-kajian akademik seperti kajian filologi dan kajian sejarah yang saat ini berkembang di ruang publik sebaiknya ditempatkan secara proporsional sebagai bagian dari diskursus ilmiah. Kajian ilmiah bertujuan untuk mencari kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan secara metodologis, bukan untuk menumbuhkan kebencian dan bukan untuk membuat kegaduhan.
Oleh karena itu pesan terpenting untuk masyarakat adalah agar tetap tenang, tidak mudah terprovokasi dan senantiasa mengedepankan persatuan. Mari kita kembalikan keberanian untuk bertanya secara santun, untuk melakukan verifikasi dan untuk belajar dengan sumber yang terpercaya. Dengan nalar yang jernih dan hati yang bersatu, kita dapat menjaga kemurnian aqidah sekaligus menjaga keutuhan bangsa.





LEAVE A REPLY