Home Opini *Renungan Jiwa\\

*Renungan Jiwa\\

34
0
SHARE
  *Renungan Jiwa\\

Dr. Ir. Hadi Prajoko, SH, MH.

Ketauladanan hidup 

ADAB BERGAUL DAN MENJAGA RUANG
Antara Membuka Pintu dan Menentukan Batas

Dalam hidup bermasyarakat, manusia itu ibarat rumah yang selalu punya dua kemungkinan:
dibuka pintunya, atau ditutup rapat-rapat.

Ada orang yang memilih menutup diri, menjaga agar tak ada yang mengganggu.
Ada pula yang membuka lebar, menerima siapa saja tanpa banyak tanya.
Di antara keduanya, ada satu jalan yang lebih halus:
    membuka pintu dengan hati, 
    dan menjaga kunci dengan akal.
*

ORANG BAIK: BUKAN YANG TERLIHAT, TAPI YANG TERASA

Orang baik itu bukan selalu yang dipuji, bukan pula yang tak pernah dituding.
Kadang justru:
ia terbuka pada yang mungkin menyakitinya,
tetap rendah hati saat disanjung,
tetap tenang saat diremehkan,
tetap menolong, bahkan pada yang pernah mencelakainya.

Bukan karena ia tak tahu risiko, tapi karena ia punya daya tampung yang luas. Dan dari situlah muncul satu tanda yang tak bisa dibuat-buat:
> Orang datang bukan karena sepakat,
   tapi karena merasa aman.

Rumah seperti ini tak pernah sepi.
Bukan karena ia mengundang,
tapi karena ia tidak pernah menolak kunjungan dan tak pernah tega mengusir meski cara halus. 
*

YANG DATANG: BUKAN SELALU YANG BAIK-BAIK SAJA

Sering orang keliru menilai:
“Kalau benar ia baik, kenapa yang datang justru orang-orang bermasalah?”

Padahal hukum alamnya sederhana:
> Yang terluka mencari yang tak menyakiti.
   Yang bingung mencari yang tak menghakimi.

Maka jangan heran, yang datang justru:
yang jatuh,
yang salah,
yang belum selesai dengan dirinya sendiri.
Mereka tidak mencari hakim.
Mereka mencari tempat yang nyaman. 

Namun di sinilah ujian dimulai:
> Apakah ia ikut hanyut,
   atau tetap menjadi arah?
   Jika ia ikut rusak, ia terseret.
   Jika ia tetap tegak, ia menjadi poros.

Tentu saja orang baik itu sudah punya jawaban jitu, dan dia tak perlu seorang penilai untuk itu. 
*

PUJIAN DAN TUDINGAN: DUA TAMU YANG TAK PERLU DITAKUTI

Dalam pergaulan, akan selalu ada dua hal yang datang silih berganti: pujian dan tudingan.
Yang satu mengangkat,
yang satu menjatuhkan.
Namun keduanya punya jebakan yang sama: menjadikan kita hidup dari luar diri.

Maka sikap yang matang bukan:
menolak pujian mentah-mentah,
atau sibuk membela diri dari tudingan,
melainkan:
> menerima tanpa melekat,
   dan membiarkan tanpa terpancing.

*Pujian didengar, tapi tidak dijadikan ukuran.*

Tudingan dilihat, tapi tidak dijadikan pusat perhatian.
Karena ada waktunya menjelaskan,
dan ada waktunya cukup diam.


*BATAS: KETIKA PINTU TAK HARUS SELALU TERBUKA*

*Namun keterbukaan tanpa batas bukan kebijaksanaan*
*Ia bisa menjadi celah bagi kerusakan*

Tidak semua yang datang adalah tamu.
Sebagian hanya ingin memastikan rumah itu tak pernah tenang.
Di sinilah orang baik harus belajar satu hal yang paling sulit:
> menolak tanpa kehilangan kemanusiaan, dan kehilangan martabat.

Menolak bukan berarti membenci.
Menutup pintu bukan berarti mengusir dengan kasar.
Tapi sekadar:
    tidak melayani percakapan yang berulang tanpa 
   arah,
   tidak memberi ruang pada provokasi, dan 
   tidak menjadikan keributan sebagai kewajiban 
   untuk dijawab.

Karena:
> Tidak semua tudingan mencari kebenaran.
   Sebagian hanya mencari panggung, tidak membagi wawasan*


*MEMBACA NIAT: ILMU YANG TAK TERTULIS*

Dalam setiap pertemuan, manusia membawa niatnya masing-masing.
Ada yang datang dengan gelas kosong,
ada yang datang membawa api.
Yang satu bertanya untuk memahami.
Yang satu bertanya untuk menyerang.
Perbedaannya bukan pada kata,
tapi pada sikap:
   yang satu mendengar,
   yang satu menunggu giliran bicara.
   yang satu bisa berubah,
   yang satu hanya ingin menang.

Dan cara paling mudah mengenalinya adalah ini:
> Ketika tidak dilayani,
   yang mencari kebenaran akan tetap tenang,
   yang mencari keributan akan gelisah.


*MENJAGA RUANG: AGAR TETAP MENJADI TEMPAT TEDUH*

Ruang yang sehat bukan yang selalu ramai,
tapi yang tetap jernih.
Jika semua orang dilayani tanpa batas, maka yang datang bukan lagi mencari teduh, tapi menjadikan tempat itu gelanggang.
Maka perlu satu garis yang jelas:

> Menerima orangnya,
   tidak selalu menerima perbuatannya.

Dan dari sinilah 

*Keseimbangan itu lahir,*
*antara kasih dan ketegasan,*
*antara lapang dan batas-batas jiwa' murni*


 Sari renungan pagi;

*Akhirnya, hidup dalam pergaulan bukan soal menjadi baik di mata orang,*
tapi menjadi tempat yang benar bagi orang lain tanpa kehilangan diri sendiri.

> Tidak semua yang mengetuk pintu harus   
    dipersilakan masuk.
   *Tidak semua tamu yang  datang harus diusir.*

> Bukalah pintu dengan hati,
   dan kuncilah dengan aka Waras dan NALAR INTUITIF l—
   agar rumahmu tetap menjadi tempat teduh, adem ayem tentram bahagia, saling hormat menghormati....
   *bukan panggung keributan.*


Seorang yang selalu menerima kunjungan banyak orang dari berbagai latar belakang dan kepentingan.

Produser kesadaran 

Gus WARAS