oleh : Hamdan Suhaemi
Latar Belakang
Ada yang bertanya tentang Syekh Siti Jenar dari penyaksiannya lihat film layar lebar Wali Songo dan film Sunan Kalijaga dan Syekh Siti Jenar, pertanyaan tersebut tentang siapa Siti Jenar itu?, darimana asal usulnya? lalu kenapa dihukum penggal oleh Sultan Demak Raden Fatah karena dianggap mengajarkan tentang hakikat pada penduduk Jawa, padahal mereka baru masuk IsIam, tentu yang perlu dikenalkan terlebih dulu adalah tentang tauhid dan tentang ibadah. Menjadi kesalahan fatal yang dituduhkan pada Syekh Siti Jenar karena berdampak menyimpang dan menyesatkan penduduk Jawa.
Peristiwa itu terjadi di abad 15 Masehi, tidak jauh waktunya dari penobatan Raden Fatah bin Prabu Brawijaya V menjadi Sultan pertama Kerajaan Islam Demak. Menurut Candra Sengkala, penobatan tersebut diketahui sengkala " Geni Mati Siniram Janma " dengan makna geni itu api dan berarti angkanya 4, lalu mati atau kematian angkanya 0, kata siniram berarti disiram punya makna angka 4, sedangkan janma itu artinya manusia dengan makna angka 1. Jika dijumlah menjadi tahun 1404 dalam istilah saka, karena hitungan saka itu dibalik, maka tahun tersebut bertepatan dengan tahun 1481 atau1482 Masehi.
Asal Usul
Menurut Ahmad Chodjim dalam bukunya Syekh Siti Jenar : Makna Kematian, penerbit Serambi tahun 2002, hlm. 5, bahwa Syekh Siti Jenar itu bernama asli Sayid Hasan Ali Anshar putera dari Syekh Sayid Datuk Soleh, adik dari Syekh Sayid Datuk Kahfi Cirebon.
Sedangkan menurut naskah Wangsakerta, sarga III, pupuh 76 dijelaskan bahwa Syekh Siti Jenar itu bernama asli Sayid Abdul Jalil bin Sayid Datuk Soleh yang lahir di tanah Malaka pada tahun 1426 M.
Berbeda dengan pendapat di atas, adalah D.A.Rinkes dalam bukunya The Nine Saint of Java, dengan mengutip naskah tulisan tangan Raden Ngabehi Soeradipoera yang menuturkan bahwa Syekh Siti Jenar bernama asli Abdul Jalil putera Sunan Gunung Jati, mungkin dimaksud Sunan Gunung Jati I yaitu Syekh Datuk Kahfi.
Jika D.A Rinkes menyebutkan Sunan Gunung Jati atau Syekh Datuk Kahfi, maka ia adalah kakak dari Syekh Datuk Soleh yang wafat di Cirebon setelah lama mukim di Malaka dan hijrah ke Cirebon, setahun kemudian Syekh Datuk Soleh wafat meningggalkan istrinya yang tengah hamil, setelah itu lahirlah Abdul Jalil dan dihubungkan sebagai puteranya Syekh Datuk Kahfi. Karena itu Rinkes mencatatkan tempat dan tahun kelahiran Abdul Jalil alias Siti Jenar itu di Pakuwan Caruban ( Cirebon) pada tahun 1426.
Menuntut Ilmu
Ketika masih kecil Abdul Jalil bin Sayid Datuk Soleh ini diantarkan oleh Ki Danusela, sahabat karib ayahnya ke pesantren yang diasuh oleh Syekh Sayid Datuk Kahfi di Giri Amparan Jati, selang beberapa tahun setelah santri angkatan pertama adalah Pangeran Walangsungsang dan Dewi Lara Santang yang keduanya adalah putera puteri Prabu Siliwangi, Raja Agung Pajajaran.
Menurut Damar Shasangka dalam karyanya Sekelumit Kisah Sunan Kajenar atau Syekh Siti Jenar, bahwa setelah penguasaan ilmu agama IsIam dari uwaknya tersebut, Abdul Jalil atau Hasan Ali Anshar pergi belajar hingga ke pedalaman Pajajaran untuk berguru pada pertapa Budha dan ahli Yoga Hindu. Hingga Abdul Jalil mampu menguasai empat tahap Yoga dari Rontal Catur Viphala, yaitu Nis-Prha, Nir-Hana, Nis-Kala, dan Nis- Asraya. Dari penguasaan tahapan 4 Yoga tersebut, Abdul Jalil mencapai puncak kesadarannya yaitu bahwa seluruh alam adalah satu kesatuan.
Setelah dari pedalaman Pajajaran, Abdul Jalil melanjutkan perjalanan menuntut ilmunya ke Palembang kepada Arya Damar, seorang bangsawan Majapahit putera dari selir Prabu Wikramawardhana yang berkedudukan di Palembang. Arya Damar seorang penguasa Palembang yang cukup alim karena ia murid Sayid Ibrahim Samarkand ( ayah Sunan Ampel).
Dari Palembang menuju Malaka, negeri yang berada di selat yang strategis lalu lalang kapal niaga Nusantara. Abdul Jalil berguru pada seorang ulama besar yaitu Syekh Datuk Ahmad yang kebetulan adalah kakak dari ayahnya. Oleh uwaknya inilah nama Abdul Jalil disematkan kepadanya, karena nama lahirnya adalah Hasan Ali Anshar atau logat Cirebonnya Kasan Ali.
Menurut Agus Sunyoto dalam Atlas Wali Songo ( hlm. 318-319 ) bahwa setelah menuntut ilmu di Malaka, Abdul Jalil lalu melanjutkan pengembaraannya ke negeri Baghdad dan Persia selama 17 tahun, ia berguru terutama pada ulama Sufi. Hingga Abdul Jalil mampu menguasai kitab Ihya ulumuddin Imam Ghazali, Fushushul Hikam Ibnu Aroby, karya karya Imam Abu Yazid Albustomi, Haqiqatul Haqoiq, Insan Kamil dan Manazilul Ilahiyah nya Imam al-Jilli, dan pendalamannya atas pemikiran sufistiknya Al-Hallaj.
Bahkan Abdul Jalil tidak puas belajar di Baghdad, ia pun menuntut ilmu pada seorang ulama besar Syi'ah yaitu Mullah Muntadhar, pemuka Syi'ah Ismailiyah di Persia. Dari Mullah itulah corak sufismenya berbeda nantinya dengan umumnya para anggota Wali Songo lainnya. Bahkan sangat tajam perbedaannya.
Menjadi Anggota Wali Songo
Dalam Carita Purwaka Caruban Nagari, Abdul Jalil setelah kepulangannya dari Persia dan masyhur dikenal Syekh Abdul Jalil memilih untuk tinggal di Krendashawa yang kebetulan tanah tempat tinggalnya tersebut berwarna merah, maka penduduk memanggilnya dengan Syekh Lemah Abang dan karena juga tanahnya agak kekuningan, ada yang memanggilnya dengan Syekh Siti Jenar.
Menurut Damar Shasangka, Syekh Abdul Jalil pulang dari rihlah ilmiahnya dan kembali ke Cirebon itu tercatat di tahun 1463 M. Dari Ampeldenta mendengar nama masyhur Syekh Abdul Jalil yang tinggal di Krendashawa Cirebon, figur ulama yang alim allamah, seorang bangsawan Malaka, dan juga masih kerabat Kanjeng Sunan Ampel.
Kanjeng Sunan Ampel meminta Syekh Abdul Jalil untuk bergabung dalam majlis ulama yang arah besarnya adalah dakwah Islam agar merata ke seluruh Nusantara. Majlis ulama itu lalu lebih masyhur dikenal Majlis Wali Songo ( sembilan Wali) dan dipimpin oleh maha guru Syekh Sayid Ali Rahmatullah, mursyid tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah yang kemudian lebih dikenal dengan Susuhunan Ampeldenta atau Sunan Ampel.
Siti Jenar Nyeleneh
Dalam rentang waktu mengajar santri di Krendashawa, Syekh Siti Jenar dianggap terlalu terbuka dalam menjabarkan hakikat sifat 20 tanpa " tedheng aling-aling ". Hemat penulis mungkin Syekh Siti Jenar tidak lihat lihat siapa yang tengah belajar, sispa yang jadi mustamiinnya, pukul rata seolah di hadapannya orang-orang yang sudah paham agama dengan benar.
Mungkin saat itu Syekn Siti Jenar tengah mengajarkan konsep '" Kam munfashil dan Kam Muttashil " dengan sangat terbuka, hingga ini yang dianggap pemicu awal ketidaksepakatan Wali Songo lainnya terhadap ajaran yang disampaikan Syekh Siti Jenar tersebut. Karena dianggap akan membahayakan penduduk Jawa yang baru masuk IsIam.
Bahkan masih menurut Agus Sunyoto, bahwa Syekh Siti Jenar lebih sering mengklaim " Aku adalah Allah ( ana al-haq), akulah yang sejati, tidak ada yang lain yang disebut ilahi ". Ini bisa jadi pernyataan teologis yang paling fatal di saat mana penduduk Jawa baru masuk IsIam dan sama sekali belum paham apa itu Islam.
Murid - Murid
Dalam Babad Jaka Tingkir tercatat nama-nama murid Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang antara lain : Ki Ageng Banyu Biru, zki Ageng Getas Aji, Ki Ageng Balak, ki Ageng Butuh, Ki Ageng Ngerang, Ki Ageng Jati, Ki Ageng Watalunan, ki Ageng Pringapus, ki Ageng Nganggas, ki Ageng ngambat, ki Ageng Babadan, ki Ageng Wanantara, ki Ageng Majasta, ki Ageng Karanggayam, ki Ageng Ngargaloka, ki Ageng Kayupring ki Ageng Selandaka dan santri yang paling utama adalah Ki Ageng Tingkir atau Pangeran Kebo Kenongo dan nama lainnya Ki Ageng Pengging.
Fatwa Hukuman Mati
Berbagai sumber baik dari sumber Carita purwaka Caruban Nagari, Serat Siti Jenar, Babad Cirebon, Serat Siti Jenar, Babad Poerworedja, Historiografi Jawa Tengah, dan Historiografi Cirebon semua mendeskripsikan kematian Syekh Siti Jenar akibat keputusan hukum mati yang dikeluarkan oleh Majlis Wali Songo.
Tetapi menurut Muhammad Solikhin dalam karyanya Ternyata Syekh Siti Jenar Tidak Dieksekusi Wali Songo ( Erlangga, tahun 2008 ) menjelaskan bahwa sebenarnya Syekh Siti Jenar tidak pernah dieksekusi mati akibat dari ajarannya yang nyeleneh tersebut, tentang konsep teologisnya " Manunggaling Kawula Gusti ". Karena ternyata berdasarkan penelitian, bahwa bukan Siti Jenar yang secara terbuka mengajarkan soal menyingkap rahasia wujud Allah kepada penduduk Jawa, namun ada yang mengatasnamakan Syekh Siti Jenar, yang mungkin secara langsung orang tersebut telah menerima ajaran tersebut dari Syekh Siti Jenar dengan tidak diperintahkan untuk mengajarkan hal tersebut kepada penduduk Jawa.
Penutup
Sejarah perlu dibuka kembali, karena sejarah akan dikuatkan oleh bukti bukti yang mencatatnya, dan ternyata bukti tersebut seringnya datang belakangan di saat justifikasi sejarah menjadi kepastian yang tak bisa dirubah. Inilah kerja sejarawan, ahli sejarah dan pakar sejarah agar meluangkan waktu untuk meluruskan sejarah yang ternyata diisi oleh sentimen kekuasaan dan pengkhianatan.
Serang 18 April 2026





LEAVE A REPLY