.
Penulis : Hengky Sendyanto
Tim Divisi Media dan Informasi PP PWI-LS
Gelombang itu nyata. Tidak lagi samar, tidak lagi bisa dipinggirkan. Kota Pekalongan—yang selama ini oleh sebagian pihak dilabeli dengan narasi tertentu (Kotanya Tarim)—kini menunjukkan wajah baru: wajah kesadaran, konsolidasi, dan keberanian menyuarakan arah.
Pada Jumat, 17 April 2026, suasana di RM Sego Kucing, Jalan Tentara Pelajar No. 55, Pekalongan Utara, bukan sekadar ajang Halal Bihalal biasa. Ia menjelma menjadi panggung konsolidasi besar yang mengguncang peta sosial-keagamaan Pekalongan Raya. Pimpinan Daerah Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PD PWI-LS) Kota Pekalongan sukses menghadirkan lebih dari 900 peserta—angka yang tidak bisa dianggap sebagai kebetulan, melainkan sinyal kuat perubahan arus.
Hadirnya para tokoh sentral semakin menguatkan bobot acara ini. Tampak hadir K.H. Muhammad Abbas Billy Yachsy atau yang akrab disapa Gus Abbas selaku Ketua Umum PWI-LS, didampingi jajaran Pengurus Wilayah PWI-LS Provinsi Jawa Tengah. Turut hadir pula Kyai Haji Miftahul Hafid (Gus Miftah) ABG, pengasuh Pondok Pesantren ABG Ungaran, Kabupaten Semarang, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua PW PWI-LS Jawa Tengah. Selain itu, kehadiran Gus Khoer sebagai Wakil Ketua PW PWI-LS Jawa Tengah semakin mempertegas soliditas kepemimpinan di tingkat wilayah. Tampak hadir pula Ketua PD PWI-LS Kabupaten Pemalang Kyai Ismail Husein, Ketua PD PWI-LS Kabupaten Pekalongan Mas Boy, Ketua PD PWI-LS Kabupaten Batang KH. Amad Fadholi (Mbah Lugut)
Kehadiran mereka bukan sekadar simbolik. Ia menjadi penegasan bahwa gerakan ini tidak berjalan sporadis, melainkan terstruktur, terorganisir, dan memiliki garis komando yang jelas dari pusat hingga daerah.
Bahkan menurut H. Malul Akbar, SH., selaku Ketua Panitia Koordinator PWI-LS Pekalongan Raya, jumlah anggota di Kota Pekalongan telah menembus lebih dari 1.500 orang. Sebanyak 47 kyai, 157 ustadz, dan 89 tokoh masyarakat disebut telah bergabung. Ini bukan sekadar angka—ini adalah representasi dari akumulasi kepercayaan yang terus bertumbuh.
Narasi lama mulai runtuh. Klaim-klaim eksklusivitas yang selama ini seolah tak tergoyahkan, kini mulai dipertanyakan. Pekalongan tidak lagi berdiri dalam satu warna tunggal. Ia bergerak, berdialog, dan—yang paling penting—menentukan arah sendiri.
Namun yang lebih menarik adalah pesan yang tersirat di balik pernyataan panitia: bahwa masyarakat mulai “sadar.” Sadar terhadap apa? Terhadap dinamika sejarah, terhadap tafsir keagamaan, terhadap berbagai klaim yang selama ini diterima begitu saja tanpa ruang kritis. Kesadaran ini, bagi sebagian pihak, mungkin terasa sebagai ancaman. Tapi bagi yang lain, ini adalah kebangkitan.
Peristiwa ini tidak bisa dibaca sekadar sebagai agenda seremonial. Ini adalah momentum. Momentum di mana kekuatan akar rumput, para ulama, dan masyarakat bersatu dalam satu frekuensi—menegaskan posisi, memperkuat identitas, dan menyusun langkah ke depan.
Pekalongan telah berbicara. Pertanyaannya sekarang: siapa yang siap mendengar, dan siapa yang masih memilih menutup mata?





LEAVE A REPLY