Home Opini Beragama atau Diperdagangkan? Saat Khurafat, Kuburan, dan Sejarah Palsu Jadi Alat Menjajah Akal Umat

Beragama atau Diperdagangkan? Saat Khurafat, Kuburan, dan Sejarah Palsu Jadi Alat Menjajah Akal Umat

15
0
SHARE
Beragama atau Diperdagangkan? Saat Khurafat, Kuburan, dan Sejarah Palsu Jadi Alat Menjajah Akal Umat

OLEH:
Diar Mandala
Kolumnis Menara Madinah

 menaramadinah.com
Kita sedang menyaksikan kebangkrutan akal sehat yang dilegalkan atas nama agama. 

Lihatlah panggung di hadapan kita: Pertama, mimbar-mimbar yang dulu tempat ilmu, kini jadi panggung sirkus khurafat. Dalil diganti mimpi, sanad diganti “kata guru saya”, akal sehat dilecehkan demi karomah yang memalukan syariat. Kedua, kebun singkong semalam bisa naik pangkat jadi “maqam wali” besok pagi. Besoknya lagi sudah ada kijing, sudah ada yayasan, sudah ada bus peziarah, sudah ada kotak amal yang menganga. 
Ketiga, darah Rasulullah SAW yang suci kini diobral seperti ijazah paket C. Cukup PDF satu lembar, maka nama kemarin sore langsung jadi “cucu ke-40”.

Ini bukan dakwah. Ini penipuan yang dibungkus sorban.
*1. Khurafat: Candu yang Dijual di Mimbar*
Khurafat adalah bisnis paling tua dan paling licik. Modalnya cuma satu: membunuh logika jemaah.

“Guru saya bisa baca isi hati kalian.” “Kalau tidak ziarah ke sini, anak kalian sakit.” “Mimpi ketemu saya sudah cukup jadi tiket surga.”

Kalimat-kalimat sampah seperti ini seharusnya membuat kita muntah. Tapi anehnya, kita justru bertepuk tangan. Kita membayar untuk dibodohi. Kita menyerahkan dompet demi ditipu. Ini bukan mahabbah. Ini perbudakan yang kita nikmati.

*2. Kuburan Palsu*: Properti Paling Menguntungkan
Tanya warga sepuh di kampung. Mereka akan jawab lirih: “Dek, tahun 2022 itu masih galengan sawah.” Hari ini sudah ada nama “Syekh”, sudah ada haul, sudah ada pelataran parkir.

Luar biasanya penipuan ini: ia kebal kritik. Siapa yang bertanya, dituduh menentang wali. Siapa yang menyelidik, dituduh tidak punya adab. Kesakralan palsu menjadi tameng dari kebusukan yang nyata. Dan kita, dengan bodohnya, ikut menyumbang semen untuk membangun penjara akal kita sendiri.

*3. Silsilah Palsu: Menghina Rasulullah Demi Panggung*  
Ilmu nasab itu sakral. Ia dijaga para naqib, ditulis dengan tinta emas, diuji dengan saksi dan kitab. Hari ini ia dijual kiloan di grup WhatsApp.

Tujuannya telanjang: membangun tembok kekebalan. Sekali menyandang stempel “durriyah”, maka kritik kepadanya berubah jadi “melawan ahlul bait”. Perintahnya menjadi titah. Kesalahannya menjadi “kekhilafan yang diampuni”. Ini bukan mencintai Nabi. Ini melacurkan nama Nabi untuk membeli panggung dunia.

*4. Bongkar Motifnya: Mereka Bukan Pendakwah, Mereka Pedagang*  
Ini bukan dakwah yang salah jalan. Ini kejahatan yang memang dirancang. Motifnya tiga:

Satu, Dagang Identitas. Karena tidak punya ilmu, tidak punya sanad, tidak pernah tirakat, maka mereka menciptakan identitas sendiri. Caranya? Bangun kuburan, lalu angkat diri jadi kuncennya. Seketika dianggap alim tanpa pernah ngaji.

Dua, Dagang Uang. Khurafat + Kuburan = mesin uang yang tidak kenal krisis. Selama umat mau takut dan mau bodoh, maka mesin kasir mereka tidak akan pernah berhenti berbunyi.

Tiga, Dagang Kuasa. Ini tujuan akhirnya. Semua dagangan identitas dan uang itu hanya bahan bakar untuk satu hal: *menduduki pucuk ormas-ormas besar umat*. Sebab di republik ini, siapa yang pegang komando ormas terbesar, dia pegang jutaan kepala yang siap sami’na wa atha’na. Dari sana, negara ini bisa disetir tanpa perlu kudeta. Cukup kudeta akal pengikutnya.

*5. Bercermin pada Ulama Pribumi*: Yang Tidak Dijual dan Tidak Menjual
Lihatlah ulama-ulama kampung kita. Surau kecil, kitab kuning, nama tak dikenal media. Makamnya pun rata dengan tanah.

Tapi hidup mereka hanya untuk satu hal: Qalallah, Qala Rasulullah. Tidak jualan mimpi, tidak bangun makam untuk diri, tidak sibuk memburu pengakuan wali atau durriyah. Satu-satunya yang mereka takutkan adalah hisab Allah karena menyembunyikan ilmu.

Bandingkan dengan mereka yang takutnya hanya satu: kehilangan panggung dan pengikut. Beda antara langit dan comberan.

Yang satu dicari umat karena ilmunya. Yang satu mencari umat karena lapar pengakuan.

Penutup: Penjajah Itu Kini Memakai Peci
Penjajahan paling paripurna adalah ketika korbannya berterima kasih pada penjajahnya. Hari ini kita berterima kasih kepada orang yang menjual agama kita, menipu kantong kita, dan membunuh akal kita.

Mereka tidak takut polisi. Tidak takut UU ITE. Mereka hanya takut pada satu hal: umat yang berhenti bodoh dan mulai bertanya.

Maka bertanyalah. Tanya dalilnya. Tanya kitabnya. Tanya sanadnya. Tanya saksinya. Jika jawabannya hanya “iman saja, jangan banyak tanya”, maka ketahuilah: Anda sedang diajak masuk ke kandang.

Agama ini tegak di atas ilmu, bukan di atas pokoknya. Jika kita biarkan ormas-ormas besar jatuh ke tangan para pedagang ini, maka yang dilelang bukan lagi surga. Yang digadaikan adalah Indonesia.

Wallahu a’lam bish shawab.