Oleh : H.Imam Kusnin Ahmad SH.
Menjelang Muktamar ke-35, Mengenang Sosok-Sosok yang Menjadi Pilar Organisasi Islam Terbesar di Indonesia
Menjelang digelarnya Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 yang akan diselenggarakan pada bulan Agustus 2026, sangatlah tepat untuk mengenang dan mengenal lebih dekat para tokoh pimpinan yang telah memimpin organisasi ini sejak awal berdirinya.
Seperti pepatah mengatakan, "tak kenal maka tak sayang", mengenal sejarah kepemimpinan NU adalah cara untuk menghargai perjuangan dan warisan nilai yang telah dibangun selama hampir satu abad.
Berikut adalah uraian dan penjelasan mengenai para Rais ‘Aam (pimpinan tertinggi Syuriyah) dan Ketua Tanfidziyah (pelaksana harian) NU dari masa ke masa.
Periode Awal: Masa Pendirian dan Perjuangan.
1. KH. M. Hasyim Asy’ari (Rais Akbar/Rais ‘Aam)
Masa Khidmat: Muktamar ke-1 (1926) hingga ke-16 (1946)
Beliau adalah pendiri sekaligus pimpinan pertama NU yang bergelar Hadratus Syaikh. Lahir di Jombang, KH. Hasyim Asy’ari dikenal sebagai ulama besar yang mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng .
Di bawah kepemimpinannya, NU berdiri kokoh sebagai wadah pemersatu ulama yang berpegang teguh pada mazhab Syafi’i dan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah . Beliau juga pencetus Resolusi Jihad yang menjadi semangat perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, dan kini dianugerahi gelar Pahlawan Nasional .
Ketua Tanfidziyah seiring masa:
- H. Hasan Gipo (1926-1929)
- KH. Achmad Noor (1929-1937)
- KH. Machfudz Siddiq (1937-1946)
- KH. Nachrowi Tohir (1946)
2. KH. Abdul Wahab Hasbullah (Rais ‘Aam)
Masa Khidmat: Muktamar ke-17 (1947) hingga ke-24 (1967)
Salah satu pendiri NU yang juga dikenal sebagai "Sesepuh Ansor" . Beliau adalah sosok yang visioner, modern, dan diplomatis . Bersama KH. Hasyim Asy’ari, beliau meletakkan dasar organisasi dengan sistem dua badan: Syuriyah dan Tanfidziyah .
Di masa kepemimpinannya, NU semakin kuat berperan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, serta aktif dalam perjuangan kemerdekaan sebagai Panglima KH Abdul Wahab Hasbullah (Mbah Wahab) pernah menjadi panglima tertinggi laskar pejuang Islam, yaitu Panglima Laskar Hizbullah (yang juga sering dirujuk sebagai Laskar Mujahidin) selama masa pendudukan Jepang dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
KH Wahab Hasbullah dikenal sebagai ulama kharismatik, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU), dan pahlawan nasional yang tidak hanya berjuang melalui pemikiran, tetapi juga terjun langsung memimpin pasukan santri.
Ketua Tanfidziyah seiring masa:
- KH. Nachrowi Tohir (1947-1948)
- KH. Abdul Wahid Hasyim (1948-1954) – Putra KH. Hasyim Asy’ari, kemudian menjadi Menteri Agama.
- KH. Muhammad Dahlan (1954-1956)
- KH. Idham Chalid (1956-1979) – Sosok yang sangat karismatik dan memimpin pelaksana organisasi dalam waktu yang sangat lama.
*Periode Perkembangan: Transisi Dan Konsolidasi*
3. KH. Bisri Syansuri (Rais ‘Aam)
Masa Khidmat: Muktamar ke-25 (1971) hingga wafat tahun 1980
Pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Jombang, dan kakak ipar KH. Abdul Wahab Hasbullah . Beliau dikenal sebagai ulama yang tegas dan pendiri pesantren putri pertama di Indonesia, menunjukkan kepedulian besar terhadap pendidikan perempuan .
Setelah beliau wafat, digantikan oleh KH. Ali Maksum melalui Munas Alim Ulama di Kaliurang tahun 1981 .
Ketua Tanfidziyah: KH. Idham Chalid (masa bakti berlanjut hingga 1979).
4. KH. Achmad Siddiq (Rais ‘Aam)
Masa Khidmat: Muktamar ke-27 (1984) hingga wafat tahun 1991
Lahir di Jember, beliau adalah ulama yang cerdas dan progresif, serta pencetus konsep Trilogi Ukhuwah (Ukhuwah Islamiyah, Wathaniyah, dan Basyariyah) yang menjadi dasar hubungan antarmanusia dan bangsa . Sebelum menjadi Rais ‘Aam, beliau pernah menjadi anggota DPR dan sekretaris pribadi KH. Abdul Wahid Hasyim .
Setelah wafat, jabatan diisi sementara oleh KH. Ali Yafie, kemudian KH. M. Ilyas Ruchiyat hingga Muktamar berikutnya.
Ketua Tanfidziyah: KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) – Sosok intelektual yang kemudian menjadi Presiden ke-4 RI, memimpin pelaksana organisasi dengan gagasan-gagasan modern dan inklusif.
5. KH. M. Ilyas Ruchiyat (Rais ‘Aam)
Masa Khidmat: Muktamar ke-29 (1994) hingga 1999
Melanjutkan kepemimpinan setelah masa transisi, beliau dikenal sebagai ulama yang bijaksana dan menjaga stabilitas organisasi di tengah dinamika zaman.
Ketua Tanfidziyah: KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) (masa bakti berlanjut hingga 1999).
*Periode Modern: Konsistensi dan Inovasi*
6. KH. MA. Sahal Mahfudh (Rais ‘Aam)
Masa Khidmat: Muktamar ke-30 (1999) hingga wafat tahun 2014
Pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda, Pati, Jawa Tengah . Beliau adalah ulama yang sangat ahli dalam fiqih dan bahasa, serta pernah menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) selama dua periode . Di bawah kepemimpinannya, NU semakin mempertegas posisinya sebagai organisasi yang moderat, toleran, dan berakar kuat pada tradisi keislaman Nusantara. Setelah wafat, digantikan oleh KH. A. Musthofa Bisri sebagai Pejabat Rais ‘Aam (2014-2015).
Ketua Tanfidziyah:
- KH. A. Hasyim Muzadi (1999-2010) – Tokoh yang sangat populer, memimpin NU dengan pendekatan yang inklusif dan memperluas jaringan organisasi.
- KH. Said Aqil Siroj (2010-2021) – Membawa NU memasuki era digital dan memperkuat peran organisasi di tingkat nasional maupun internasional.
7. KH. Ma’ruf Amin (Rais ‘Aam)
Masa Khidmat: Muktamar ke-33 (2015) hingga mengundurkan diri tahun 2018
Lahir di Tangerang, beliau adalah ulama yang memiliki pengalaman panjang di legislatif dan organisasi keagamaan, termasuk pernah menjadi Ketua Umum MUI . Pada tahun 2018, beliau mengundurkan diri karena ditetapkan sebagai Calon Wakil Presiden RI, dan kemudian terpilih menjadi Wakil Presiden ke-13 Republik Indonesia . Jabatan Rais ‘Aam kemudian diisi oleh KH. Miftachul Akhyar sebagai Pejabat.
8. KH. Miftachul Akhyar (Rais ‘Aam)
Masa Khidmat: 2018 – Sekarang (Terpilih resmi Muktamar 2021)
Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah, Surabaya . Beliau dikenal sebagai ulama yang sederhana, rendah hati, namun memiliki wibawa yang besar . Terpilih resmi menjadi Rais ‘Aam pada Muktamar ke-34 tahun 2021 untuk masa khidmat 2022-2027 .
Ketua Tanfidziyah Saat Ini: KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) – Terpilih bersamaan pada Muktamar 2021, membawa visi pembaruan dan penguatan peran NU di tengah masyarakat.
Dari daftar nama-nama besar di atas, terlihat jelas bahwa kepemimpinan NU selalu diisi oleh orang-orang yang memiliki integritas, keilmuan, dan pengabdian yang luar biasa. Mereka bukan hanya pemimpin organisasi, tetapi juga panutan umat dan pelayan bangsa.
Menjelang Muktamar ke-35 nanti, semoga warisan nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan oleh para pendahulu tetap terjaga dan terus berkembang demi kemaslahatan umat, bangsa, dan negara. Semoga kita semua bisa meneladani keteladanan mereka dalam berbuat baik, menjaga persatuan, dan mengamalkan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
"Semoga Allah SWT memberikan rahmat yang luas bagi para pimpinan NU yang telah wafat, dan memberikan kesehatan serta kekuatan bagi yang masih hidup untuk terus mengabdi. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin."*Wallahu A'lam Bisshawab*





LEAVE A REPLY